Kelebihan dan Kekurangan Cloud Computing yang Perlu Dipahami Sebelum Implementasi

Kelebihan dan Kekurangan Cloud Computing yang Perlu Dipahami Sebelum Implementasi

Selama ini, perpindahan ke cloud sering dianggap keputusan teknis yang otomatis menekan biaya. Sayangnya, fakta di lapangan tidak sesederhana itu. Sejumlah perusahaan justru menemukan tagihan bulanannya naik setelah migrasi, bukan karena teknologinya keliru, melainkan karena beban kerja dipindahkan apa adanya tanpa penyesuaian. Kenaikan itu baru terbaca beberapa bulan kemudian ketika pola pemakaian mulai terlihat.

Kondisi tersebut menyentuh banyak pihak sekaligus, mulai dari tim teknis yang mengoperasikan sistem, tim keuangan yang membaca tagihan, sampai manajemen yang menandatangani kontrak. Memahami kelebihan sekaligus kekurangan cloud computing sebelum implementasi karena itu lebih berguna dibanding mengikuti kesimpulan umum yang beredar di pasar. Penilaian yang jujur di awal juga memudahkan penyusunan anggaran yang realistis untuk tahun berjalan.

Mengapa Cloud Tidak Selalu Lebih Murah?

Untuk memahami hal ini, cloud perlu dilihat dari sudut yang berbeda. Menimbang kelayakan tiap beban kerja secara terpisah karena itu lebih berguna dibanding memutuskan seluruh sistem sekaligus. Perpindahan ke layanan awan pada dasarnya menukar belanja modal di awal dengan biaya operasional yang berjalan terus. Server yang dibeli sekali lalu dipakai lima tahun berganti menjadi tagihan yang muncul setiap bulan mengikuti pemakaian.

Pertukaran itu menguntungkan ketika pemakaiannya naik turun, sebab kapasitas bisa ditambah saat ramai dan dikurangi saat sepi. Sebaliknya, beban kerja yang berjalan stabil dua puluh empat jam sepanjang tahun tidak memperoleh manfaat dari kelenturan tersebut, sementara biayanya tetap berjalan. Perhitungan biaya lima tahun ke depan karena itu perlu disandingkan dengan biaya perangkat yang dibeli sendiri.

Karena itu pertanyaan yang lebih tepat bukan apakah cloud lebih murah, melainkan beban kerja mana yang cocok dipindahkan dan mana yang lebih baik dipertahankan. Contohnya, sistem laporan yang hanya dipakai di akhir bulan cocok dipindahkan, sedangkan basis data internal yang bebannya rata sepanjang hari perlu dihitung ulang.

Kelebihan dan Kekurangan Cloud Computing yang Perlu Ditimbang

Setidaknya terdapat lima hal yang paling menentukan hasil sebuah implementasi, dan masing-masing membawa sisi positif sekaligus konsekuensinya.

1. Kelenturan Kapasitas dan Risiko Pemborosan

Kapasitas komputasi dapat ditambah dalam hitungan menit ketika lalu lintas melonjak, lalu dikurangi kembali setelah reda. Kemampuan ini menghilangkan kebutuhan membeli perangkat untuk mengantisipasi puncak yang hanya terjadi beberapa kali setahun. Modal yang semula tertahan di perangkat pun bisa dialihkan ke kebutuhan lain. Sisi lainnya, sumber daya yang dinyalakan lalu terlupakan tetap ditagih penuh. Penandaan tiap sumber daya dengan nama pemiliknya mempermudah penelusurannya. Pemantauan pemakaian karena itu menjadi pekerjaan rutin, bukan kegiatan sesekali. Contohnya, lingkungan pengujian yang dinyalakan untuk satu percobaan lalu dibiarkan aktif sebulan tetap masuk tagihan penuh.

2. Kecepatan Penyediaan dan Ketergantungan pada Penyedia

Lingkungan kerja baru bisa disiapkan tanpa menunggu pengadaan perangkat, sehingga waktu antara rencana dan pengujian memendek. Kecepatan itu berdampingan dengan ketergantungan pada satu penyedia layanan, terutama bila sistem dibangun memakai layanan khusus miliknya. Ketergantungan ini baru terasa ketika muncul kebutuhan berpindah atau menegosiasikan ulang kontrak. Perpindahan ke penyedia lain di kemudian hari menuntut penulisan ulang sebagian komponen. Biaya pemindahan data keluar juga perlu diperhitungkan sejak kontrak disusun. Menimbang tingkat keterikatan sejak awal perancangan menghemat biaya di masa depan. Memakai komponen yang bersifat umum untuk bagian inti sistem menekan risiko tersebut.

3. Ketersediaan Tinggi dan Batas Kendali Teknis

Penyedia layanan menyediakan pusat data di beberapa lokasi sehingga sistem tetap berjalan meski satu lokasi terganggu. Pengaturannya pun tinggal dipilih tanpa perlu membangun sendiri. Konsekuensinya, kendali atas lapisan perangkat keras berpindah ke penyedia, dan gangguan di sisi penyedia hanya bisa ditunggu perbaikannya. Perencanaan pemulihan bencana tetap perlu disiapkan sendiri meski layanannya sudah tersedia. Penetapan berapa lama layanan boleh mati dan berapa banyak data yang boleh hilang menjadi dasar perencanaannya.

4. Keamanan Terkelola dan Pembagian Tanggung Jawab

Penyedia layanan menangani keamanan fisik pusat data, pemutakhiran perangkat keras, dan sebagian lapisan jaringan. Bagian pengaturan hak akses, enkripsi data, dan konfigurasi layanan tetap menjadi tanggung jawab pemakainya. Salah paham atas pembagian ini menjadi penyebab sebagian besar insiden kebocoran data. Contohnya, penyimpanan berkas yang dibiarkan terbuka untuk umum karena pengaturan bawaannya tidak pernah diperiksa. Pemeriksaan konfigurasi secara berkala karena itu sama pentingnya dengan pemilihan layanannya.

5. Kemudahan Otomatisasi dan Kebutuhan Keterampilan Baru

Hampir seluruh komponen dapat dijalankan lewat kode, sehingga penyediaan lingkungan bisa diulang tanpa langkah manual. Kemampuan ini menekan kesalahan konfigurasi sekaligus mempercepat pemulihan. Di sisi lain, tim perlu menguasai perkakas yang berbeda dari administrasi server tradisional. Pada akhirnya, kesiapan sumber daya manusia sama menentukannya dengan pemilihan teknologi. Anggaran pelatihan tim layak dimasukkan ke dalam perhitungan biaya migrasi sejak awal.

Pergeseran Cara Perusahaan Merancang Implementasi

Dahulu, banyak organisasi memindahkan seluruh sistemnya sekaligus dengan pertimbangan efisiensi. Kini pendekatan tersebut mulai ditinggalkan karena hasilnya sering tidak sesuai perhitungan awal. Migrasi bertahap yang dimulai dari beban kerja bersifat sementara memberi ruang untuk mengukur sebelum melangkah lebih jauh. Hasil pengukuran tahap pertama kemudian dipakai memperbaiki perkiraan untuk tahap berikutnya.

Perhatian juga bergeser ke pengelolaan biaya sebagai bagian dari pekerjaan harian, bukan urusan akhir tahun. Penandaan sumber daya per divisi, penetapan batas anggaran, dan peninjauan berkala kini masuk ke standar operasi. Laporan pemakaian per divisi juga memudahkan pembahasan anggaran di tingkat manajemen. Contohnya, lingkungan pengujian yang dijadwalkan mati di luar jam kerja bisa memangkas tagihan tanpa mengganggu pekerjaan tim.

Kebutuhan Tenaga yang Memahami Kedua Sisi

Meningkatnya kompleksitas infrastruktur membuat kebutuhan akan cloud engineer terus bertambah, terutama yang mampu menilai kapan sebuah layanan layak dipakai dan kapan sebaiknya tidak. Perusahaan tidak kekurangan orang yang bisa menyalakan layanan, melainkan kekurangan orang yang bisa menjelaskan konsekuensinya.

Kebutuhan tersebut tersebar di perbankan, telekomunikasi, ritel, sampai lembaga pemerintahan yang sedang memindahkan layanannya ke ranah digital. Sebagian besar posisinya juga terbuka untuk skema kerja jarak jauh karena pekerjaannya berbasis akses ke sistem. Jalur masuknya pun terbuka bagi yang berpindah dari peran dukungan teknis maupun administrasi server.

Membangun Kompetensi Cloud secara Terarah

Kemampuan menimbang seperti itu sulit terbentuk dari membaca dokumentasi penyedia layanan, sebab dokumentasi menjelaskan cara memakai tanpa membahas kapan sebaiknya dipakai. Untuk membangun kompetensi di bidang ini, kursus cloud engineer dari Course-Net dapat menjadi langkah awal yang tepat.

Cakupan materinya bergerak dari konsep dasar cloud dan teknik penelusuran gangguan operasional, perancangan infrastruktur yang lentur dan hemat biaya, administrasi harian meliputi komputasi, penyimpanan, dan jaringan lewat antarmuka grafis maupun baris perintah, otomatisasi dan migrasi beban kerja, sampai penerapan pengelolaan keamanan berupa pengaturan hak akses, enkripsi, dan pemulihan bencana.

Pendampingnya praktisi aktif dengan pengalaman lebih dari lima tahun di perusahaan seperti Traveloka, Telkom Indonesia, dan Sucofindo, sehingga kasus yang dibahas berasal dari kondisi kerja sesungguhnya. Kelas berlangsung semi privat dengan maksimal dua belas peserta per coach, tersedia dalam bentuk tatap muka maupun daring, dan dilengkapi garansi mengulang kelas tanpa biaya tambahan. Course-Net sendiri tercatat sebagai authorized training partner CompTIA serta telah meluluskan lebih dari 100.000 alumni, termasuk yang berangkat tanpa dasar teknologi informasi.

Belajar IT di Course-Net, Sampai bisa!

Masih Ga percaya ? Di Course-Net kamu Belajar Langsung Oleh Coach Praktisi Aktif Berpengalaman

Share: