Ketika membicarakan kelangkaan talenta di dunia teknologi, banyak orang membayangkan posisi developer sebagai yang paling sulit diisi. Pekerjaannya teknis, materinya dianggap paling berat, dan jumlah pelamarnya terasa selalu kurang.
Namun kenyataannya justru menunjukkan hal yang berbeda. Tidak sedikit perusahaan yang mengaku lebih cepat menemukan developer yang sesuai dibanding UI/UX designer, meski jumlah pelamar untuk posisi desain sering kali jauh lebih banyak.
Kesenjangan ini menarik karena bukan disebabkan sepinya peminat. Justru sebaliknya, peminatnya melimpah tetapi yang benar-benar siap bekerja terasa langka. Memahami penyebabnya membuka gambaran yang berguna bagi siapa pun yang tertarik masuk ke bidang ini.
Mengapa Banyak Pelamar tetapi Sedikit yang Cocok?
Berbeda dengan anggapan umum, pekerjaan UI/UX bukanlah kegiatan membuat tampilan yang bagus. Bagian visual hanyalah hasil akhir dari rangkaian pekerjaan yang jauh lebih panjang di belakangnya.
Sebelum satu tombol digambar, seorang perancang perlu memahami siapa yang akan memakai produknya, masalah apa yang sedang dihadapi, dan mengapa cara yang ada sekarang belum menyelesaikannya. Proses ini melibatkan riset, penyusunan alur, pengujian, sampai kompromi dengan batasan teknis dan bisnis.
Karena itu, kesenjangan yang terjadi bukan soal jumlah, melainkan soal kedalaman. Banyak yang menguasai perangkat desainnya, tetapi lebih sedikit yang terbiasa berpikir dari sisi orang yang akan memakainya.
Persoalannya diperberat oleh sifat pekerjaan ini yang hasilnya baru terasa belakangan. Rancangan yang buruk jarang langsung terlihat gagal, tetapi perlahan menurunkan jumlah orang yang menyelesaikan pendaftaran atau menaikkan keluhan yang masuk. Karena dampaknya tidak seketika, perusahaan cenderung sangat berhati-hati saat memilih kandidat.
Faktor yang Membuat UI/UX Designer Sulit Ditemukan
Kelangkaan ini bukan disebabkan satu faktor saja. Berikut beberapa hal yang paling sering menjadi penyebabnya.
1. Kemampuannya Sulit Diukur secara Langsung
Kemampuan seorang developer relatif mudah diuji. Kodenya bisa dijalankan, hasilnya berfungsi atau tidak, dan penilaiannya cukup jelas. Pekerjaan desain tidak sesederhana itu.
Sebuah rancangan bisa terlihat indah tetapi membingungkan saat dipakai, atau terlihat sederhana tetapi justru sangat efektif. Menilainya menuntut pemeriksaan terhadap proses berpikirnya, bukan sekadar hasil akhirnya. Inilah alasan proses seleksinya cenderung lebih lama dan lebih sering meleset.
2. Banyak yang Berhenti pada Kemampuan Perangkat
Menguasai perangkat desain kini relatif mudah dipelajari sendiri lewat banyak sumber. Akibatnya, muncul banyak kandidat yang mahir menggambar tampilan tetapi belum terbiasa menjawab pertanyaan mengapa rancangannya dibuat seperti itu.
Padahal yang dinilai perusahaan justru bagian tersebut. Kemampuan memakai perangkat dianggap sebagai syarat dasar, bukan keunggulan. Semakin mudah perangkatnya dipelajari, semakin bergeser pula nilai seseorang ke arah cara berpikirnya.
3. Riset Sering Dilewati padahal Paling Dibutuhkan
Bagian riset umumnya terasa lambat dan tidak menghasilkan sesuatu yang bisa dipamerkan. Karena itu, banyak pemula melewatinya dan langsung menggambar tampilan.
Perusahaan justru sangat membutuhkan bagian ini, karena kesalahan merancang produk jauh lebih mahal dibanding kesalahan menulis kode. Kandidat yang terbiasa menggali kebutuhan sebelum merancang menjadi langka, sekaligus paling dicari.
Salah menulis kode bisa diperbaiki dalam hitungan jam, sedangkan salah merancang alur bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan tim pengembang untuk sesuatu yang ternyata tidak dibutuhkan siapa pun.
4. Portofolionya Cenderung Seragam
Sebagian besar portofolio berisi rancangan ulang aplikasi terkenal yang dibuat tanpa konteks nyata. Karyanya rapi, tetapi tidak menunjukkan keputusan apa pun karena masalahnya tidak benar-benar ada.
Perekrut sulit menilai kemampuan dari karya semacam itu. Yang dicari adalah cerita lengkapnya, mulai dari masalah yang ditemukan, cara mengujinya, sampai perubahan yang dilakukan berdasarkan masukan. Semakin jelas prosesnya, semakin mudah kemampuannya terlihat.
Satu studi kasus dari masalah kecil yang benar-benar ada, misalnya alur pendaftaran di komunitas kampus, sering kali lebih bernilai dibanding rancangan ulang aplikasi besar yang dibuat tanpa data apa pun.
5. Menuntut Perpaduan Keterampilan yang Jarang Berkumpul
Peran ini menuntut kepekaan visual sekaligus cara berpikir yang tertata, ditambah kemampuan berkomunikasi dengan tim teknis maupun pihak bisnis. Perpaduan semacam ini tidak umum ditemukan pada satu orang.
Seorang perancang perlu memahami batasan teknis agar rancangannya bisa diwujudkan, sekaligus memahami tujuan bisnis agar karyanya relevan. Inilah alasan posisi ini terasa lebih sulit diisi meski peminatnya banyak.
Rancangan yang indah tetapi mustahil dibangun akan berakhir di tempat sampah, sementara rancangan yang mudah dibangun tetapi mengabaikan kebutuhan pemakainya justru menambah masalah. Menemukan titik tengahnya adalah pekerjaan sehari-hari seorang perancang.
Cara Menilai UI/UX Designer Kini Sudah Bergeser
Dahulu, portofolio berisi kumpulan tampilan yang menarik sudah cukup untuk lolos tahap awal. Kini pendekatan tersebut mulai ditinggalkan karena dianggap tidak membuktikan kemampuan.
Penilaian saat ini umumnya menyentuh beberapa hal berikut:
- Studi kasus yang menceritakan proses, mulai dari masalah, riset, sampai keputusan akhirnya.
- Bukti pengujian bersama calon pemakainya, beserta perubahan yang dilakukan setelahnya.
- Konsistensi rancangan, misalnya lewat penerapan design system yang tertata.
- Kemampuan menjelaskan alasan, karena rancangan akan dipertanggungjawabkan di depan tim.
Pergeseran ini membuat satu studi kasus yang tergarap serius jauh lebih bernilai dibanding puluhan tampilan tanpa cerita. Karya yang jujur menampilkan kegagalan dan perbaikannya justru sering dinilai lebih meyakinkan.
Peluang Karier di Bidang UI/UX
Selama masih ada produk digital yang dipakai orang, kebutuhan terhadap perancang yang memahami kebutuhan pemakainya akan tetap ada. Kebutuhan ini tersebar di banyak sektor, dengan beberapa peran yang umum ditemui, seperti:
- UI Designer, yang berfokus pada tampilan, konsistensi visual, dan design system.
- UX Designer, yang berfokus pada riset, alur, dan pengujian bersama calon pemakainya.
- Product Designer, yang menangani keduanya sekaligus dan lazim di perusahaan berskala kecil hingga menengah.
Bidang ini juga terbuka bagi yang berasal dari latar belakang non teknis, karena yang paling dibutuhkan adalah kepekaan terhadap kebutuhan orang lain dan ketelitian dalam menguji. Latar belakang di bidang komunikasi, psikologi, atau bahkan layanan pelanggan justru sering menjadi nilai tambah.
Sayangnya, bidang ini sulit dipelajari sendiri karena bagian tersulitnya justru bukan perangkatnya, melainkan kebiasaan berpikir dan menguji rancangan. Tanpa arahan, banyak yang berhenti pada kemampuan menggambar tampilan saja.
Mempersiapkan Karier UI/UX Secara Lebih Terarah
Menjadi perancang yang dicari menuntut lebih dari kemahiran memakai perangkat. Dibutuhkan pemahaman tentang cara menggali kebutuhan, menyusun alur, menguji rancangan, sampai menjelaskan alasannya kepada tim lain. Belajar bersama praktisi yang mengerjakannya setiap hari membantu mempercepat proses ini karena setiap materi dikaitkan dengan kondisi nyata.
Bagi yang ingin mendalaminya secara serius, Kursus UI/UX Course-Net dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan. Materinya mencakup fundamental UI/UX, design thinking, dan pendekatan user-centered design, user research berbasis data, pembuatan wireframe, user flow, information architecture, sampai prototyping yang interaktif, penerapan responsive design dan design system modular, prinsip UX law, aksesibilitas, user testing, kolaborasi lintas tim, hingga penerapan kecerdasan buatan dalam proses perancangan. Kelasnya bersifat semi-privat dengan jumlah peserta terbatas per coach, dipandu praktisi aktif yang berpengalaman di bidang desain dan riset produk digital, serta dilengkapi fasilitas mengulang kelas tanpa biaya tambahan dan sesi inkubasi karier. Untuk mengetahui jadwal dan rincian program yang berlaku saat ini, informasi terbaru bisa dilihat langsung di halaman resminya.






