Sejarah Big Data Pertama Kali dan Evolusi Perkembangan Big Data

Mempelajari sejarah big data sangat penting karena evolusi penggunaannya telah mengubah cara berbagai sektor industri menghasilkan, mengelola, dan memanfaatkan data—dari data elektronik, media sosial, hingga Internet of Things (IoT).

Big data memiliki volume dan velocity tinggi, membuatnya bermanfaat bagi Data Scientist untuk menganalisa data skala besar dan tidak terstruktur, yang tak mungkin ditangani oleh alat intelijen bisnis tradisional.

Artikel ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh tentang sejarah big data, dari pengumpulan data pertama kali hingga pengelolaan data yang semakin kompleks di abad ke-21, serta dampaknya dalam mengubah cara bisnis meningkatkan pendapatan dan mengembangkan produk atau layanan.

Baca Juga: Pengertian Big Data: Definisi, Jenis & Contohnya

Sejarah Big Data Pertama Kali Ditemukan

Sejarah big data dimulai ketika Doug Laney, seorang analis industri, memperkenalkan konsep 3V (volume, velocity, variety) pada awal 2000-an.

Istilah big data mencakup kumpulan data dengan volume besar yang terus meningkat, jenis data yang beragam, dan kecepatan (velocity) dalam pemrosesan dan pengolahannya. 

Dengan perkembangan teknologi, terutama di bidang machine learning, IoT, dan cloud storage, big data menjadi signifikan dalam menyediakan informasi untuk bisnis, penelitian, dan aplikasi lainnya.

Hadoop misalnya, memungkinkan data besar diproses dan disimpan dengan lebih efisien. Karena pentingnya analisis data terstruktur maupun tidak terstruktur, big data diperkirakan akan terus berperan dalam pengambilan keputusan berbasis data dan inovasi teknologi di masa depan.

Evolusi Perkembangan Big Data

Untuk memahami evolusi big data, kita perlu melihat perjalanan teknologi ini sejak abad ke-20.

Teknologi Big Data Tahun 1930 sampai 1940-an 

Big data pertama kali mulai terbentuk di era 1930-an, saat proyek pengumpulan data skala besar muncul.

Pada tahun 1937, perubahan Social Security Act di Amerika Serikat menuntut pemerintah melacak kontribusi dari 26 juta warga dan lebih dari 3 juta pemberi kerja. IBM diberi tugas mengembangkan mesin punch card untuk memproses data ini. 

Selanjutnya, tahun 1943, Inggris mengembangkan mesin pengolah data elektronik pertama, Colossus, untuk memecahkan kode Nazi. Colossus dapat memproses 5.000 karakter per detik, menjadi terobosan penting dalam evolusi pengolahan data dan intelijen tradisional.

Teknologi Big Data Tahun 1950 sampai 1990-an

Pada 1952, National Security Agency (NSA) memulai penggunaan teknologi untuk mengumpulkan dan memproses data intelijen selama Perang Dingin. Ini melibatkan 12.000 ahli kriptografi dalam memecahkan kode secara otomatis.

Pada 1965, pemerintah AS menciptakan pusat data pertama untuk mengatur data pajak dan sidik jari lebih dari 900 juta catatan, disimpan dalam pita magnetik. Walaupun akhirnya proyek ini dihentikan, inovasi ini menjadi dasar bagi perkembangan penyimpanan data elektronik modern.

Pada 1989, Tim Berners-Lee menemukan World Wide Web (WWW), memicu aliran data yang terus meningkat dengan perangkat yang mulai terhubung ke internet, mengubah proses pengumpulan data menjadi lebih luas.

Teknologi Big Data Tahun 2000-an

Istilah “big data” pertama kali muncul pada 2005 oleh Rogers Mougalas dari O’Reilly Media, menggambarkan skala data yang sulit ditangani dengan teknologi tradisional.

Di tahun yang sama, Yahoo menciptakan Hadoop berbasis Google MapReduce, yang menjadi revolusioner dalam memproses data dalam skala petabyte untuk mengindeks web.

Pemerintah India pada 2009 juga mengembangkan basis data biometrik terbesar dunia melalui pemindaian iris, sidik jari, dan foto 1,2 miliar penduduknya.

Evolusi big data mulai mengubah berbagai sektor, dari bisnis hingga pemerintahan, mengoptimalkan penggunaan data untuk analisis, penyimpanan, dan intelijen bisnis, serta membuka jalan bagi teknologi baru.

Teknologi Big Data Tahun 2010-an hingga saat ini

Pada 2010, Eric Schmidt menyatakan bahwa manusia menciptakan 5 exabyte data setiap dua hari. Dengan jumlah data yang terus meningkat, peran Data Scientist menjadi vital untuk menganalisis dan mengolahnya.

Pada 2011, McKinsey memperkirakan kebutuhan signifikan tenaga ahli data untuk mendukung pemanfaatan big data yang kian beragam.

Di era ini, big data dimanfaatkan dalam pengembangan Internet of Things (IoT) dan media sosial, menghasilkan data berukuran masif.

Banyak startup big data muncul, membantu bisnis dalam pengelolaan dan analisis data untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi layanan, serta mengubah cara sektor industri memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan berbasis data.

Baca Juga: Mengenal Karakteristik Big Data!

Kuasai Big Data yang Berpengaruh Pada Bisnis Saat ini dan Masa Depan

Sejarah big data mencerminkan evolusi pesat dalam pemrosesan dan pengolahan data berukuran besar, dengan volume dan velocity yang semakin tinggi sejak istilah big data pertama kali dikenalkan Doug Laney di 2005.

Hadoop, IoT, dan machine learning kini menjadi signifikan dalam mengelola kumpulan data, baik terstruktur maupun tidak terstruktur, untuk pengambilan keputusan bisnis.

Ingin memperdalam pemahaman dan keterampilan dalam big data? Ikuti Kursus Big Data di Course-Net.

Selain itu, Anda juga bisa mengasah kemampuan analisis data melalui Bootcamp Data Science, dan Kursus Data Analyst hanya di Course-Net!

Pelajari cara mengolah volume data yang besar, memahami tren data modern seperti IoT dan machine learning, serta kuasai teknik pemrosesan data untuk menjadi ahli di era digital yang penuh peluang.

Belajar IT di Course-Net, Sampai bisa!

Masih Ga percaya ? Di Course-Net kamu Belajar Langsung Oleh Coach Praktisi Aktif Berpengalaman

Share: